Demi Uang…

18 12 2007

haris1.jpgSeorang teman kerja yang seringkali bekerjasama dengan saya pernah mengatakan, “Mengapa saya harus mau mengerjakan itu, itukan ga ada dananya ?. Bukankah sekarang kita dikantor mencari uang, bukannya mencari kerja, buat apa mengerjakan sesuatu kalau ga ada uangnya… ?. “ Dalam benak pikiran teman saya ini, kalau tidak ada imbalannya uangnya, buat apa dikerjakan. Baginya melakukan sesuatu pekerjaan, harus selalu diukur dengan mendapatkan imbalan uang.

Seorang teman kerja lainnya, setiap ketemu isi pembicaraannya adalah bagaimana caranya kita bisa hidup tanpa mengeluarkan biaya alias gratis. Misalnya, dia mengajak saya makan siang, begitu selesai makan dan waktunya membayar, selalu ada saja alasannya untuk tidak membayar.
Di lain waktu dia bertemu saya dengan bangga mengatakan, ” Aku baru saja ditraktir makan sama Yan di Bakso Soloberseri, enak lho.” Ini bukan hanya dilakukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali dan dengan banyak teman lainnya. Dalam hati saya, “hah, yang benar saja, dibayarin orang lain kok membanggakan diri.” Anehnya, teman saya ini adalah seorang yang berkecukupan ekonomi dan berpendidikan tinggi, yang jelas-jelas tidak kesulitan keuangan karena memiliki penghasilan yang cukup.

Saya yakin andapun dengan mudah akan menemukan orang-orang model seperti ini. Mungkin ada teman kantor atau tetangga yang kalau didatangi untuk dimintai sumbangan sosial, susahnya minta ampun. Namun pada saat dia ada keperluan, dengan seenaknya meminta tolong ke orang lain, misalnya. Mereka ini adalah orang-orang yang mendahulukan meminta, bukan memberi. Mereka mengukur segala sesuatu dengan hasil yang didapatkannya, melakukan sesuatu harus ada uangnya. Mungkin semboyannya adalah, “kalau bisa meminta, kenapa harus beli.” Inilah yang saya sebut sebagai orang-orang yang memiliki Mentalitas Meminta.

Mentalitas Meminta, biasanya didasari oleh kekawatiran dalam dirinya akan kekurangan dan kecemasan tentang masa depan yang belum pasti. Pikirannya dipenuhi kekawatiran, kalau banyak memberi akan menjadi kekurangan. Akibatnya kelompok ini senang mementingkan diri sendiri, menumpuk kekayaan, ilmu untuk dirinya sendiri. Memikirkan orang lain harus ada imbalannya. Inilah pribadi-pribadi egois yang memiliki mentalitas meminta.

Bagaimana dengan mentalitas memberi ? Mereka yang memiliki mentalitas memberi berkeyakinan bahwa dalam kehidupan ini begitu banyak kesempatan hidup diluar sana yang tidak akan serba kekurangan. Mereka berkeyakinan seolah-olah ada begitu banyak kue kehidupan yang berlimpah, yang tidak akan pernah habis untuk dibagi-bagi dengan banyak orang. Mereka berkeyakinan memberi dan berbagi adalah bentuk pelepasan energi positif dari dalam dirinya untuk orang lain dan alam semesta. Sehingga dalam berhubungan dengan orang lain selalu berprinisp mendahulukan memberi, bukan meminta.

Kalau kita ingin berhasil meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam hidup ini, mulailah mengubah mentalitas diri kita menjadi Mentalitas Memberi. Berikan segenap karunia potensi yang anda miliki, keluarkan potensi spiritual yang anda miliki, untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Kewajiban hidup kita bukan hanya mensejahterakan diri sendiri, tetapi juga mensejahterakan kehidupan orang lain.


Aksi

Information

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: