Profil Kesehatan Kabupaten Merangin Tahun 2006

15 09 2007

PROFIL DINAS KESEHATAN KABUPATEN MERANGIN PROVINSI JAMBI TAHUN 2006korup3.jpg

KATA PENGANTAR

Profil Kesehatan Kabupaten Merangin tahun 2007 merupakan sarana untuk melaporkan pemantauan terhadap pencapaian kegiatan pembanunan kesehatan di Kabupaten Merangin pada tahun 2006, yang berisi data dan informasi pencapaian Indonesia Sehat 2010 ( IS 2010 ), Standar Pelayanan Minimal ( SPM ) dan Merangin Sehat 2008.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan buku ini, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan dan jerih payah saudara-saudara sekalian.
Dalam penyusunan buku ini, kami akui masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang membangun kearah penyempurnaan buku ini kami terima dengan tangan terbuka.
Akhirnya, mudah-mudahan buku ini dapat berguna dan membahtu siapa saja yang membaca dan membutuhkan data-data hasil evaluasi cakupan program pembangunan kesehatan di Kabupaten Merangin pada tahun 2006.

Bangko, Maret 2007
Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Merangin,

Dr. Hj. HERNAYAWATI
NIP. 140 228 578

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk mengukur keberhasilan upaya kesehatan yang dilaksanakan maka sangat diperlukan indicator-indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan. Indikator yang digunakan saat ini adalah menggunakan indicator SPM (Standar Pelayanan Minimal) dan indicator IS 2010 (Indonesia Sehat 2010).
Indiktor SPM ditetapkan melalui SK Menkes RI Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003 yang berisi Urusan Wajib 9 program, Jenis Pelayanan 31 jenis dan Indikator Kinerja 54 indikator. Sedangkan IS 2010 ditetapkan melalui SK Menkes RI Nomor 1202/Menkes/SK/VII/2003 yang berisi 3 indikator utama 10 program dan 50 indikator kinerja, dengan pembagian sbb :
– Indikator Derajat Kesehatan sebanyak 3 program dan 11 indikator kinerja
– Indikator Hasil Antara sebanyak 3 program dan 9 indikator kinerja
– Indikator Proses dan Masukan sebanyak 4 program dan 30 indikator kinerja
Penyusunan buku Profil Kesehatan ini diharapkan dapat menjawab semua indikator yang ada baik SPM maupun IS 2010. Hal ini tentu harus sejalan dengan SIMPUS dari oleh dan untuk puskesmas yang penetapannya diserahkan kepada daerah, untuk itu maka Kabupaten Merangin telah melakukan penataan kembali SIMPUS.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian upaya kesehatan dalam hal kinerja penyelenggaraan pelayanan kesehatan menuju Merangin Sehat dan juga sejalan dengan standar SPM dan IS 2010.

2. Tujuan Khusus
a. Tersedianya data dan informasi hasil pencapaian upaya kesehatan menuju kabupaten sehat
b. Tersedianya data dan informasi hasil pencapaian kegiatan upaya kesehatan berdasarkan SPM
c. Diketahuinya keberhasilan dan kekurangan dalam upaya kesehatan menuju Merangin Sehat
d. Sebagai bahan masukan untuk penyusunan buku profil kesehatan Provinsi Jambi tahun 2007

C. Sistematika Penulisan
Buku Profil Kesehatan kabupaten Merangin Tahun 2007 ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I . PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan tentang dasar penilaian atau indikator yang digunakan dan tujuan penyusunan serta sitematika penulisan buku profil kesehatan Kabupaten Merangin.

BAB II. GAMBARAN UMUM
Bab ini menyajikan uraian tentang letak geografis, administrasi, jumlah sarana dan prasara serta informasi umum lainnya, disamping juga diuraikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap upaya kesehatan seperti kependudukan.

BAB III. PROGRAM KESEHATAN KABUPATEN MERANGIN
Bab ini berisi uraian tentang upaya kesehatan dan capaian program-program lintas program yang dilakukan selama tahun 2006.

BAB IV. PENCAPAIAN PROGRAM KESEHATAN
Bab ini menguraikan tentang hasil-hasil capaian upaya kesehatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2006 dengan membandingkan cakupan tahun sebelumnya dan cakupan program yang direncanakan tahun ke depan. Dengan mempedomani Merangin Sehat, SPM dan IS 2010.

BAB V. KESIMPULAN
Bab ini merupakan sajian penting berisi hal-hal yang perlu disimak, diperbaiki dan pemikiran upaya strategi untuk mencapai upaya kesehatan yang ditetapkan. Selain keberhasilan bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka menuju kabupaten sehatn dan pencapaian indicator SPM dan IS 2010.

LAMPIRAN
Lampiran ini berisi table-tabel hasil pencapaian upaya kesehatan yang telah ditetapkan, dan jika dilihat maka secara garis besar tampilan table berisi tentang 2 bagian besar yaitu :

– Bagian Pertama berisi table gambaran pencapaian indicator Merangin Sehat untuk mendukung SPM dan IS 2010
– Bagian Kedua berisi indicator pencapaian upaya kesehatan berdasarkan indikator kinerja SPM di Kabupaten Merangin

BAB II
GAMBARAN UMUM

A. Geografis

Kabupaten Merangin secara administratif terdiri dari 9 kecamatan dimana terletak antara 101°32’ Bujur Timur dan antara 1°28’ – 1°52’ Lintang Selatan. Luas wilayah lebih kurang 7.679 KM² dengan kondisi dataran rendah lebih kurang 4.607 km² serta dataran tinggi lebih kurang 3.072 km². Ketinggian dari permukaan laut rata-rata 85 m, jarak kecamatan terjauh yaitu kecamatan jangkat 137 km dari ibu kota kabupaten. Jumlah rumah tangga sebanyak 74.648 rumah tangga, untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel II.1.
Jumlah penduduk tahun 2006 sebanyak 289.296 jiwa dengan pembagian Perempuan sebanyak 143.468 jiwa dan Laki-Laki 145.828 jiwa. Dari jumlah itu 26,69 % atau 74.354 jiwa adalah Keluarga Miskin yang secara garis besar berada di pedesaan yang sulit secara ekonomi dan transportasi akses ke dan dari kota kabupaten. Distribusi penduduk berdasarkan golongan umur 70 Tahun 3.502 jiwa atau 1,21 %.

B. Sarana dan Prasarana Kesehatan
Pada tahun 2006 jumlah pusksmas ada 12 unit dengan pustu 79 unit, pada tahun 2007 ada pebnambahan sarana pelayanan kesehatan sehingga menjadi ; jumlah puskesmas 13 unit dan pustu 89 unit serta polindes 73 unit. Pada tahun 2007 ada penambahan puskesmas karena Peningkatan Pustu menjadi Puskesmas yaitu di Sumber agung.
Dari 13 puskesmas yang ada di tahun 2007 sebanyak 8 puskesmas diantaranya merupakan puskesmas perawatan. Disamping itu pada tahun 2007 ada juga pembangunan sarana fisik pustu baru sebanyak 4 unit yang tersebar di 3 puskesmas.
Dalam upaya peningkatan mutu maka beberapa kegiatan rehabilitasi fisik puskesmas dan pustu selalu diupayakan disamping untuk memenuhi standar alkes minimal untuk puskesmas dan puskesmas perawatan. Dari ke 8 unit puskesmas perawatan yang ada standar alat medis untuk menjalankan operasional perawatan sudah dapat dipenuhi melalui berbagai sumber. Penyebaran sarana pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, jumlah pustu dan polindes.

BAB III
PROGRAM KESEHATAN KABUPATEN MERANGIN

Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bidang kesehatan merupakan salah satu urusan wajib yang harus dilaksanakan daerah kabupaten. Berdasarkan itu keluarlah PP Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai daerah otonom. Sehingga keluarlah surat edaran Mendagri Nomor 100/756/OTDA tanggal 8 Juli 2020 tentang Konsep Dasar Pelaksanaan Urusan Wajib dan Standar Pelayanan Minimal. Atas dasar itu maka Menkes mengeluarkan Kepmenkes Nomor 1091/MENKES/SK/X/2004 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten. Untuk menyelenggarakan upaya kesehatan sesuai dengan uraian diatas maka Dinas Kesehatan Kabupaten Merangin melaksanakan kegiatan berdasarkan program pokok yang dapat menjawab indikator SPM dan IS 2010, dengan beberapa kegiatan sebagai berikut :

A. Kesehatan Keluarga
Dalam upaya untuk menurunkan angka kematian dan meningkatkan derajat kesehatan keluarga maka sebagai program prioritas dadalah ; pembunaan dan pelayanan kesehatan ibu, bayi, anak balita, pra sekolah, kesehatan remaja, keluarga berencana dan pembinaan tehnis dan operasional bidan desa. Untuk mendukung program diatas maka dilaksanakan kegiatan sebagai berikut ;
a. Orientasi, pembinaan dan pengdaan sarana untuk kegiatan MTBS
b. Mengadakan lomba-lomba yang berkaitan kesga seperti Lomba Balita, Dokter Kecil dll
c. Pelaksanaan konseling remaja di sekolah, deteksi tumbuh kembang remaja di puskesmas
d. Pengadaan format atau kohort yang berkaitan dengan kesga seperti kohort bayi, bumil dll
e. Pembinaan ibu hamil, deteksi dini resti bumil, ANC, dan pertolongan persalinan
f. Pembinaan dan supervisi bidan didesa dalam upaya peningkatan kinerja bidan di desa
g. Pembinaan usila
h. Pecatatan dan pelaporan serta evaluasi program kesga melalui PWS KIA

B. Gizi Masyarakat
Sasaran program gizi memfokuskan pada pencegahan dan penanggulangan masalah gizi di masyarakat, institusi forman dan non formal yang mempunyai potensi dan daya ungkit program gzi. Maka program gizi melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagaoi berikut :
a. Pelacakan dan penanggulangan gizi di masyarakat, institusi forman dan non formal
b. Pembinaan dan pengembangan Kadarzi dan SKPG
c. Pendistribusian kapsul Vitamin A untuk balita dan busui serta tablet Fe untuk ibu hamil
d. Pembinaan ASI eksklusif dan UPGK
e. Peningkatan kegiatan di posyandu yang berhubungan dengan program gizi
f. Pelatihan petugas gizi dan lomba-lomba yang berhubungan dengan gizi seperti UPGK

C. Promosi Kesehatan
Tujuan utama promosi adalah upaya pemberdayaan masyarakat agar tahu, mampu dan mau berprilaku hidup sehat. Sehingga kegiatan promkes dilaksasakan sbb :
a. Pembinaan dan upaya pengembangan penyuluhan kesehatan, PSM, UKBM, Batra yang mendukung upaya kesehatan
b. Kemitraan dengan pihal swasta dan formal/informal lain dalam pelaksanaan JPKM
c. Pembinaan dan pemetaan serta intervensi PHBS

D. P2M dan PLP
Pencegahan dan Pemberantasan (P2) penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) melaksanan kegiatan sebagai berikut :
a. Pengamatan dan surveilens penyakit menular dan berpotensi wabah
b. Pelaksanaan imunisasi
c. Pemberantasan penyakit malaria, DBD, Filaria, Rabies, Kusta, TB Paru, Diare dan frambusia.
d. Pengawasan dan pemeriksaan air di masyarakat seperti SAB, PDAM, Air Mineral, dll
e. Inspeksi sanitasi dalam upaya pengawasan dan pembinaan TTU, TPM, Hotel Penginapan, dan TPA serta penyemprotan TPA
f. Pembinaan dan pengawasan TP2 pestisida
g. Pelatihan dan temu karya di bidang PLP dan pembuatan DPKL

E. Pengobatan Tingkat Pertama Rujukan dan Kefarmasian
Program ini diarahkan kegoatan sebagai berikut :
a. Penyusunan SOP dan standar terapi pelayanan kesehatan tingkat pertama
b. Mengembangkan konsep rujukan medis
c. Pembinaan dan penyelenggaraan surveilens penyakit degeneratif
d. Perencanaan, pengadaan dan evaluasi penggunaan obat
e. Pembinaan dan pengawasan POM

F. Pembinaan Program Lintas Program
Program ini diarahkan bersifat penyiapan data dan laporan-laporan serta perencanaan anggaran kesehatan, kegiatannya diarahkan sebagai berikut :
a. Pembinaan dan penyiapan sarana prasarana rujukan kesehatan masyarakat
b. Penyusunan SOP dan Standar Terapi upaya kesehatan tingkat pertama
c. Penyusunan laporan tahunan, profil keehatan dan LAKIP
d. Pusat data kesehatan kabupaten khususnya yang bersangkutan dengan keehatan
e. Evaluasi indiktor pencapaian program berdasarkan SPM dan IS 2010
f. Perencanaan kebutuhan anggaran tahunan

BAB IV
PENCAPAIAN PROGRAM KESEHATAN

A. INDIKATOR MERANGIN SEHAT

1. Mortalitas
Angka mortalitas Kabupaten Merangin tidak bisa ditetapkan karena denominator perhitungan tidak memenuhi syarat, sehingga mortalitas hanya mencatat dan melaporkan jumlah berupa agregate. Dari laporan SIMPUS telihat bahwa dari 5.953 orang kelahiran hidup kematian bayi sebanyak 134 orang, kematian balita 162 orang dan kematian ibu maternal 12 orang. Namun tercatat juga bahwa kasus lahir mati sebanyak 87 orang. Sebagai bahan pembanding tercata juga jumlah balita sebanyak 37.343 orang dan jumlah ibu hamil sebanyak 8.552 orang. Data tersebut berdasarkan laporan dari puskesmas namun belum semua puskesmas melaporkan secara lengkap dan rutin, sehingga di duga jumlah kematian dilapangan lebih banyak. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel 6 dan Tabel 7.

2. Morbiditas
a. Pelayanan Kesehatan
a.1. Pertolongan Persalinan
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 80,93 %, capaian ini sudah memenuhi target sebesar 80 %. Hal ini bisa dicapai karena penempatan bidan yang hampir sudah merata di tiap desa karena kebijakan pengangkatan PTT bidan dan tenaga honorer. Namun ada beberapa puskesmas yang belum mencapai target cakupan persalinan, untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel 17.

a.2. Desa UCI
Cakupan desa UCI hanya tercapai 38,8 % atau sekitar 66 desa dari 170 desa yang ada, hal ini sangat jauh dari target UCI desa yang harus tercapai 80 %. Beberapa kendala untuk pencapaian UCI terutama masalah logistik dan prasarana penyimpanan vaksin. Bahkan ada beberapa puskesmas yang target UCI hanya tercapai 10 %, untuk jelasnya dapat dilihat tabel 22.

a.3. Tablet Fe Untuk Ibu Hamil
Cakupan Fe 3 ibu hamil pada tahun 2006 hanya tercapai 56,78 % hal ini belum memenuhi target yang diharapkan sebesar 80 %. Cakupan pemberian Fe pada ibu hamil pada Fe 1 sebesar 65,70 % sehingga ada DO Fe 3 – Fe 1 sebesar 8,92 %. Ini perlu reformasi perihal pemberian Fe yang banyak menimbulkan efek samping menjadi pemberian multivitamin yang kandungan dominan Fe yang tidak mempunyai efek samping mual dan kurang nafsu makan. Jelasnya pada tabel 25.
a.4. ASI Eksklusif
Cakupan ASI Eksklusif pada tahun 2006 sebesar 23,40 % ternyata masih jauh dari target harapan sebesar 80 %. Hal ini diperburuk dengan cakupan pencapaian ASI Eksklusif semakin menurun dibandingkan dengan tahun 2005 sebesar 35,18 % dan pada tahun 2006 sebesar 23,40 %. Ada di beberapa puskesmas yang pelaksanaan ASI Eksklusif belum melaksanakan program ASI Ekssklusif.

b. Akses dan Mutu Pelayanan
b.1. Persentase Penduduk Memanfaatkan Sarana Puskesmas
Kunjungan penduduk ke puskesmas dan jajarannya pada tahun 2006 sebesar 10,98 % yaitu 31.775 kunjungan baru tetap merata dibanding tahun 2005 sebesar 10,85 %. Kunjungan ini belum memenuhi harapan sesuai standar target 15 % kontak rate. Kemungkinan ini disebabkan karena tidak membertimbangkan fantor geografi, karena jika menggunakan standar jumlah penduduk sarana pelayanan sudah mencukupi. Namun jika dilihat dari faktor geografis maka sarana pelayanan keehatan masih banyak yang harus dibangun. Jelasnya dapar dilihat pada tabel 42.

b.2. Pemanfaatan Rumah Sakit
Pemanfaatan rumah sakit oleh penduduk terlihat dari kunjungan rawat jalan dan kunjungan rawat inap rumah sakit sebesar 5,99 % atau 17.323 kunjungan rawat jalan cakupan ini sudah cukup baik jika dibandingkan dengan target IS 2010 sebesar 1,5 %. Sedangka pemanfaatan tempat tidur seperti BOR pada tahun 2005 (TT 87 bh) dan tahun 2006 (TT 91 bh) sebesar 41 % dan 63 %. BOR tahun 2006 sudah cukup baik karena nilai ideal BOR sebesar 60 – 85 %. Sementara LOS pada tahun 2005 dan tahun 2006 sebesar 2 hari dan 3 hari, belum memenuhi harapan karena nilai ideal LOS adalah 6 – 9 hari. Untuk TOI pada tahun 2005 dan tahun 2006 sebesar 4 hari dan 2 hari sudah cukup baik pada tahun 2006 karena nilai ideal 1 – 3 hari. Jelasnya dapat dilihat pada tabel 42 dan tabel 64.

b.3. Sarana Kesehatan Kemampuan Laboratorium
Puskesmas yang sudah memenuhi standar dengan kemampuan laboratorium sederhana sebesar 41,67 % atau 5 puskesmas dari 12 puskesmas yang ada. Hal ini belum memenuhi target sebesar 100 %. Kendala yang diahadapi karena keterbatasan tenaga dan prasarana yang ada. Jelasnya pada tabel 43.

c. Penyakit Menular
c.1. Malaria
Kunjungan malaria di puskesmas dominan penyakit malaria klinis dari 12.876 kunjungan malaria hanya 20,4 % atau 2.632 kasus yang diperiksa laboratorium dan dinyatakan positif. Sehingga jika ditetapkan penyakit malaria hanya yang positif saja maka seakan-akan kunjungan malaria sangat kecil. Padahal kendala pemeriksaan laboratorium untuk malaria masih mengalami kendala tentang pembuatan spesimen dan rujukan pemeriksaan ke puskesmas.

c.2. TB Paru
Penderita TB paru yang ditemukan pada tahun 2006 sebanyak 197 orang ini lebih kecil dibanding dengan penemuan tahun 2005 sebanyak 275 orang. Dari angka kesembuhan tahun 2005 lebih kecil dibanding tahun 2006 yaitu 51,64 % (142 orang) dan 70,05 % (138 orang). Angka kesembuhan ini masih jauh dari indikator target SPM dan IS 2010 sebesar 85 %.

c.3. HIV/AIDS, AFP dan DBD serta TN
Untuk kasus ke empat jenis penyakit diatas (HIV/AIDS, AFP, DBD dan TN) pada tahun 2006 belum ditemukan datanya.

c.4. Campak
Penemuan penderita campak tahun 2006 sebanyak 77 orang dan tahun 2005 sebanyak 142 orang. Ada terjadi penurunan kasus campak yang ditemukan di masyarakat. Jika dilihat target merangin sebesar 1,9 per 1000 penduduk maka kasus campak tahun 2006 sebesar 0,27 per 1000 penduduk sudah cukup baik.
c.5. Kusta
Penderita kusta pada tahun 2006 sudah mulai menyebar ke sebahagian besar kecamatan ( 7 kecamatan dari 9 kecamatan yang ada) dibanding pada tahun 2005 hanya terdapat di 1 kecamatan yaitu kecamatan muara siau. Namun dari jumlah penderita ada penurunan dari 23 kasus tahun 2005 menjadi 17 kasus tahun 2006. RFT pada tahun 2005 sebanyak 19 orang ( 82,6 %) sedangkan tahun 2006 sebanyak 6 orang (36,6 %).

d. Status Gizi Buruk
Kasus gizi buruk pada balita pada tahun 2006 sebesar 0,12 % atau 48 orang ada penurunan dibanding tahun 2005 sebesar 0,16 % atau 58 orang. Angka ini sudah lebih baik karena sudah mendekati indikator target merangin sebesar < 0,1 %.

e. Keadaan Lingkungan
e.1. Persentase Rumah Sehat
Jumlah rumah yang ada, jumlah rumah yang diperiksa pada tahun 2006 terjadi penurunan dibanding dengan tahun 2005 namun persentase rumah sehat terjadi kenaikan jelasnya dapat dilihat grafik berikut.

e.2. Persentase TUPM
Program TUPM ada penurunan dari semua indikator baik jumlah yang ada, jumlah yang diperiksa dan jumlah yang memenuhi syarat jika dibandingkan antara tahun 2005 dan 2006.

e.3. Cakupan Air Bersih
Akses terhadap air bersih tahun 2006 sebesar 5,88 % atau 4.439 keluarga dari 75.473 keluarga yang ada, cakupan akses ini masih jauh dari target sebesar 75 % untukpedesaan dan 80 % untuk perkotaan. Perlu langkah konkrit dalam pemberdayaan masyarakat akan pentingnya air bersih disamping dukungan dana stimulan dari pemerintah.

f. Pemberdayaan Masyarakat
f.1. Jumlah Rumah Tangga Berperilaku Hidup dan Sehat (PHBS)
Persentase Rumah Tangga yang dipantau dalam program pada tahun 2006 ada peningkatan dibanding tahun 2005 yaitu sebesar 2.400 RT dan 3.600 RT, sedangkan jumlah Rumah Tangga yang ber PHBS sebanyak 1.504 RT ( 62,67 % dari RT yang dipantau) pada tahun 2005 dan 2.266 RT (62,54 % dari RT yang dipantau). Jika dilihat dari target indikator IS 2010 masih sangat jauh dari harapan yaitu sebesar 65 % atau 49.058 RT yang ber PHBS.

f.2. Posyandu Purnama dan Mandiri
Jumlah posyandu pada tahun 2006 sebanyak 351 posyandu dan 20,23 % atau 71 posyandu diantaranya terkategori Posyandu Purnama, cakupan ini sudah cukup baik karena target SPM sebesar 25 % Posyandu Purnama pada tahun 2010. Namun jika dilihat dari indikatro IS 2010 jumlah posyandu Purnama dan Mandiri target sebesar 40 % maka jumlah posyandu purnama dan mandiri masih belum memuaskan.

f.3. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ( JPK )
Cakupan JPK pada tahun 2005 menurun dibanding dengan tahun 2006 sebesar 37,098 % dan 36,74 %. Cakupan JPK cenderung hanya yang bersifat organisasi formal dan terstruktur saja seperti JPKMM, Jamsostek dan Askes sedangkan program yang sifatnya pemberdayaan di masyarakat seperti Bapel JPKM tidak ada yang menjadi peserta JPK. Dilihat dari target indikator IS 2010 maupun SPM sebesar 40 %, maka perkembangan peserta JPK belum begitu menggembirakan pada tahun 2006.

BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil cakupan pencapaian kegiatan program dan angka-angka out put dan out came berdasarkan indikator Merangin Sehat, Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Indonesia Sehat 2010 dapat disimpulkan sebagai berikut :

A. Cakupan Program Yang Tergolong Belum Dilaksanakan Atau Kebijakan Daerah Karena Kasus Belum Ada, Sebanyak 7 Program Atau 12,96 % adalah :
1. % tase akses terhadap kesediaan darah dan komponen yang aman untuk menangani rujukan ibu hamil dan neonatus
2. % tase klien yang mendapatkan penanganan HIV-AIDS
3. % tase infeksi menular seksual yang diobati
4. % tase cakupan pelayanan kesehatan kerja pada pekerja formal
5. % Cakupan WUS yang mendapat kapsul yodium
6. % tase darah donor diskrining terhadap HIV-AIDS
7. % tase kasus filariasis yang ditangani

B. Cakupan Program Sudah Tercapai Target Sebanyak 17 Program Atau 31,48 % Adalah :
1. % tase cakupan peserta KB aktif
2. % Persentase balita BGM
3. % tase cakupan pemberian makanan pendamping ASI bayi BGM Gakin
4. % tase balita gizi buruk mendapat perawatan
5. % tase neonatus resti/komplikasi yang tertangani
6. % tase desa/kelurahan mengalami KLB yang ditangani < 24 jam
7. % tase kecamatan bebas rawan gizi
8. % tase cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani
9. % tase penderita DBD yang ditangani
10. % tase balita dengan diare yang ditangani
11. % tase ketersediaan obat sesuai kebutuhan
12. % tase pengadaan obat esensial
13. % tase pengadaan obat generik
14. % tase penulisan obat generik
15. % tase cakupan JPJ Gakin dan masyarakat rentan
16. % tase penderita malaria yang diobati
17. % tase kusta yang selesai berobat (RFT)
C. Cakupan Program Yang Tergolong Waspada Karena Cakupan nya Yang Menurun dan Makin Menjauhi Target Sebanyak 2 Program Atau 3,70 % Adalah :
1. % tase cakupan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan kompetensi bidan
2. % tase cakupan kunjungan neonatus

D. Cakupan Program Yang Tergolong Sangat Prioritas Untuk Dilaksanakan Karena Cakupan nya Yang Masih Jauh Dari Target Sebanyak 28 Program Atau 51,86 % Adalah :
1. % tase cakupan kunjungan ibu hamil K4
2. % tase ibu hamil resti yang dirujuk
3. % tase cakupan kunjungan bayi
4. % tase cakupan bayi BBLR yang ditangani
5. % tase DDTK anak balita dan pra sekolah
6. % tase cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan
7. % tase cakupan pelayanan kesehatan remaja
8. % tase Desa/Kelurahan UCI
9. % tase cakupan rawat jalan
10. % tase cakupan rawat inap
11. % tase pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum
12. % tase balita yang naik berat badannya (N/D)
13. % tase cakupan balita mendapat Vitamin A 2 kali per tahun
14. % tase cakupan ibu hamil mendapat Fe 90 tablet
15. % tase bumil resti/komplikasi yang tertangani
16. % tase sarkes dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat
17. % tase AFT Rate per 100.000 penduduk < 15 tahun
18. % tase kesembuhan penderita TBC Paru BTA +
19. % tase institusi yang dibina oleh kesling
20. % tase rumah/bangunan bebas jentik nyamuk aedes
21. % tase TTU yang memenuhi syarat
22. % tase rumah tangga sehat
233. % tase bayi yang mendapat ASI Eksklusif
24. % tase desa dengan garam beryodium
25. % tase posyandu purnama
26. % tase upaya penyuluhan P# Nafza oleh petugas kesehatan
27. % tase cakupan JPK pra bayar
28. % tase cakupan pelayanan kesehatan pra usila

Sebahagian besar data penyusunan profil ini bersumber dari laporan SIMPUS puskesmas secara rutin. Namun data laporan rtutin puskesmas belum lengkap 100 % disamping akurai data yang masih belum menggembirakan. Akan tetapi walaupun dengan kondisi demikian angka-angka dan cakupan program tersebut sudah sangat mendektai pada sebahagian program yang dilaksanakan. Khususnya data mengenai Mortalitas Kabupaten Merangin hanya melaporkan jumlah kematian secara agregate saja. Demikian disampaikan agar maklum dan terima kasih.


Aksi

Information

9 responses

18 09 2007
dani iswara

semoga ngga ada yg hrs ‘dijemur’ (digantung biar cepet kering) ya pak..😀

7 01 2008
ithank

Om…

Nih profil bagus banget…

Tapi kayaknya gua pernah baca deh…..

lam kenal

9 08 2008
psk_skbm@yahoo.co.id

kok bagus profilnya bosss………… tolong diisi kegiatan -kegiatan yang ada kaintannya dengan kesehatan Lingkungan , aku butuh ……………???????????????

24 04 2010
yus

profil tahun 2009 mana bozzzzzz, aq butuh nehhhhhh

15 05 2010
ven

woww…wow..yus profil 2009 kan Tj nya Kadis Baru…Katanya sich orangnya oke banget n lebih pintar n lebih cerdas….tapi kenytaabnya kok ngga ya.??!!! Udah dech….cari yg jujur hatinya..n memang buat maju in kesehatan Merangin””jangan yang sok idealis tapi …..licik…he..he..Tp kita yakin kok…kalau Yus yg buat sendiri mgkn lbh baguuusssss baaangeett….

1 06 2010
dil

jngan gitu lah..mbak/bu ven

1 06 2010
dil

profil 2009 udh d buat kalo butuh, boleh

9 04 2012
santi arroiyan

I LOVE MERANGIN

22 02 2013
adbmodelaircraft.com

Dwight Freeney, who had previously been likely to
leave Indianapolis, spent 11 years with the Colts and with the exception of Reggie Wayne (who beats him by twelve months), was the
longest tenured Colt. Also, with great support from Motorola, it’s captured the marketplace for the innovative polyphonic ringtones. Banksy told Swindle he had no offers to go public regarding his real identity because he was not thinking about fame or fashion.

Apa Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: